• Home  
  • Sejarah  
  • Fasilitas
  • Agenda
  • Layanan
  • Koleksi 
  • Galeri  
  • Artikel 
  • Kontak

Museum Tekstil Jakarta

Artikel 

Batik Tuban Warisan Leluhur Sarat Estetik

Oleh: Wibisana & Benny

kain kerek & Batik tuban Batik Tuban merupakan salah satu batik model batik yang khas dari daerah pesisir, dimana memiliki warna yang beragam dan mencolok. Pada pertengah abad ke 19, batik Tuban adalah batik yang menyerupai ciri batik Cirebon. Kemiripan ini terjadi pada penggunaan benang pintal serta penggunaan warna merah dan biru pada proses pencelupan. Namun ketika Kota Cirebon mengalami perubahan dramatis dengan diikuti perubahan pada batiknya, batik Tuban tetap mempertahankan keaslian seperti semula. Tuban sebagai salah satu wilayah di bagian Timur dari pulau jawa, memiliki satu corak kebudayaan yang unik, mengapa? Karena dalam sejarah wilayah ini telah masuk 3 tata nilai kebudayaan yang saling mempengaruhi, dan sampai sekarang kebudayaan ini masih tetap eksis dan sama-sama berkembang, tanpa membuat salah satu kebudayaan ini tersingkir. Ketiga kebudayaan tersebut adalah 1. Jawa, yang meresap saat wilayah ini dalam kekuasaan jaman Majapahit (abad XII-XIV) 2. Islam, karena diwilayah ini hidup seorang ulama yang ternama yaitu Sunan Bonang (1465-  1525 M) 3. Tiongkok(cina), karena di Tubanlah para sisa lascar tentara kubalai khan melarikan diri dari kekalahannya pada saat menyerang Jawa di awal abad XII, hingga kini masyarakat keturunan ini banyak bermukim di Tuban. Dalam proses pembuatan batik Tuban, dimulai dari memintal bahan kain yang akan dibatik terlebih dahulu langsung dari kapas. Setelah menjadi benang, kemudian di tenun dan menjadi selembar kain untuk mulai di batik. Batik ini kemudian disebut Batik Gedog. Pusat kerajinan dan warisan turun temurun ini banyak dijumpai di desa Kedungrejo, kecamatan Kerek,Tuban. Eksistensi batik gedog sempat mati suri, dan itu pula yang menyebabkan batik Gedog sempat menjadi langka dan hampir punah. Hal ini dikarenakan banyak pengrajin batik gedog yang enggan untuk memintal kain terlebih dahulu. Namun sekarang batik gedog sudah mulai bangkit dan banyak pengrajin Tuban mulai sadar akan keistimewaan batik yang sarat akan keindahan ini.sesek

Hal ini terbukti bahwa Batik Gedog sudah melanglang buana sampai ke luar negeri dan bahkan pengrajin batik dari daerah lain mengambil pewarna dan bahan kainnya dari pengrajin Tuban Masyarakat Tuban, Jawa Timur, mengenal batik dengan sebutan batik gedog. Gedog berasal dari bunyi dog-dog yang berasal dari alat menenun batik. Perajin batik di Tuban, secara turun temurun membatik pada kain tenun. Proses pembuatan batik gedog  Tuban butuh waktu sekitar tiga bulan. Pasalnya, perajin harus melewati proses panjang memintal benang, menenun, membatik dan pewarnaan dengan bahan alami.

Ragam motif dan fungsi:

lokcan

panji serong atau mlati tlangsang

Batik tulis Tuban kain katun Batik tulis tenun Tuban terbagi dua model, kain berukuran dua meter (tapih) dan selendang. Soal fungsi, kain batik Tuban biasanya digunakan sebagai hantaran pernikahan dari pihak laki-laki kepada mempelai perempuan. Bagi masyarakat yang berada, calon pengantin laki-laki biasanya membawa 100 lembar kain batik Tuban. “Paling sedikit pihak laki-laki membawa lima lembar kain batik sebagai hantaran pernikahan,” Sementara selendang, biasanya digunakan kaum ibu untuk menggendong bakul saat ke pasar atau ke sawah. Namun ada juga selendang yang khusus digunakan untuk menghadiri acara resmi. Karena batik Tuban punya nilai tinggi, masyarakat Tuban biasanya menyimpan kain batik untuk diwariskan kepada anak-anaknya Di luar berbagai tradisi budaya setempat dalam memandang fungsi selendang batik ini, sejatinya batik Tuban punya kharisma dan keindahan yang khas dan unik. Selembar kain batik tenun tulis Tuban mewakili kreativitas perajin yang tak pernah mati, selain juga kegiatan membatik yang mengandalkan bahan dasar dari alam.

Sumber : Dinas Perindustrian,Perdagangan dan koperasi Kab.Tuban,kompas.com, tuban toursim

  • Home
  • Sejarah  
  • Fasilitas
  • Agenda
  • Layanan
  • Koleksi 
  • Galeri  
  • Artikel 
  • Kontak
www.museumtekstiljakarta.com (c) 2012